Balada Cinta Manusia Silver
/ Inspirasi
Kisah seorang suami yang menyerahkan diri demi bersua sang istri.
Octo Noor Arafat
Kepala Satpol PP Kota Yogyakarta
Hari condong sore ketika seorang lelaki berjalan memasuki halaman Mako Satpol PP Kota Yogyakarta. Tubuhnya kurus, bajunya lusuh, wajahnya berwarna perak pun tangan dan kakinya. Ia seperti patung yang tiba-tiba hidup lalu berjalan mencari sesuatu.
Saya sebenarnya sudah berada di dalam mobil dan bahkan sudah bergerak, siap keluar meninggalkan kompleks Balai Kota. Tetapi, ada perasaan aneh yang membuat saya merasa harus berputar balik, kembali ke kantor.
Terkadang manusia memang diberi firasat melalui sesuatu yang tidak bisa diterangkan oleh logika. Hari itu, firasat saya benar.
Lelaki bercat silver terlihat memasuki Mako Satpol PP. Dua perempuan petugas front office memandangnya dengan heran.
Sang lelaki bercat silver berdiri beberapa saat, kemudian berkata, “Saya minta ditangkap, Bu.”
Yuli, petugas ketertiban umum (Tibum), segera menghampiri, “Masalah opo, Mas? “Kok ujug-ujug minta ditangkap?”
Tidak ada jawaban, dan lelaki itu hanya menatap.
Ada orang-orang yang datang ke kantor Satpol PP karena mendapatkan panggilan atas pelanggaran aturan yang dilakukannya. Ada pula yang datang dengan rasa marah karena barang-barang dagangan atau perlengkapan dagangnya disita petugas.
Hela, petugas yang tengah melintas ikut nimbrung, “Duduk dulu, Mas. Tenang. Silakan duduk di ruangan sebelah.”
Lelaki Silver kemudian duduk di sebuah sofa.
Kami memberinya minum. Tangannya sedikit gemetar, ketika memegang gelas. Ia minum perlahan. Satu teguk, dua teguk, seperti seseorang yang baru saja berlari jauh.
Padahal, mungkin bukan perjalanan yang membuatnya kelelahan, tetapi pikirannya sendiri. Setelah beberapa saat, ia mulai bercerita.
Beberapa hari sebelumnya, ia datang ke Yogyakarta bersama istrinya dari luar daerah tanpa pekerjaan dan tanpa tempat tinggal, berikut bekal yang tidak seberapa. Mereka datang membawa sebuah keyakinan sederhana bahwa Jogja itu istimewa.
Di kota ini, banyak orang datang. Jalan-jalan pun ramai dan orang-orangnya ramah. Mungkin, pikir mereka, mencari uang akan lebih mudah.
Mereka kemudian mencoba menjadi manusia silver. Jelas bukan karena cita-cita atau agar dikenal. Bekerja bersama, jika salah satu mendapat uang, yang lain turut senang. Jika yang satu lelah, yang lain menemani.
Mereka tidak memiliki banyak hal, tetapi setidaknya saling memiliki satu sama lain. Bagi orang yang hidupnya serba-kekurangan, memiliki seseorang untuk berbagi kesulitan terkadang terasa seperti kemewahan.
Sampai suatu ketika, sebuah mobil patroli Satpol PP melintas. Lelaki silver panik dan berlari. Tidak ia sadari, istrinya tertinggal. Ketika ia kembali, perempuan itu sudah tidak ada. Orang-orang mengatakan, istrinya dibawa petugas.
Saat malam datang, untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Yogyakarta, lelaki itu tidur sendirian. Tempat tidurnya tetap sama, sebuah bilik garmen yang sesak. Malamnya tetap sama, tetapi ia merasa, ada sesuatu yang hilang. Apalagi kalau bukan suara napas seseorang di sebelahnya.
Ia mencoba memejamkan mata, namun tak bisa. Ia mencoba tidur, tapi tidak bisa. Ia mencoba untuk menenangkan diri, tidak bisa. Ternyata, kesunyian bisa menjadi sangat bising ketika seseorang sedang merindukan orang yang dicintainya.
“Berarti kamu ninggalin istri?” tanya saya kemudian.
Ia langsung menggeleng.
“Bukan begitu, Pak. Saya kalut. Saya takut. Makanya saya lari. Pas saya balik, istri saya sudah enggak ada,” terangnya dengan pandangan tertunduk.
Lelaki silver tampak menarik napas panjang. Suasana tiba-tiba hening.
Saya mulai bertanya, “Terus kenapa kamu datang ke sini?”
Ia terdiam sekian lama, kemudian berkata, “Saya kangen istri saya, Pak. Saya tiap hari sama istri. Ke mana-mana sama. Tidur sama. Sekarang saya sendiri.”
Kalimat yang begitu sederhana, tetapi mungkin tidak ada kalimat lain yang lebih jujur dari itu.
“Semalam saya enggak bisa tidur. Saya kepikiran terus. Makanya saya minta ditangkap,” pintanya seraya menatap kami.
Saya masih belum memahami keadaan ini dan kembali bertanya, “Untuk apa?”
“Biar saya bisa ketemu istri,” jawabannya membuat ruangan terasa lebih sunyi.
Saya sering kali melihat orang yang berusaha melarikan diri dari Satpol PP. Hari itu saya melihat seseorang yang justru datang menyerahkan diri. Bukan karena merasa bersalah, ingin dihukum, atau sedang mencari perlindungan. Ia hanya berharap bisa dipertemukan dengan seseorang yang ia cintai, istrinya.
Mungkin bagi orang lain terdengar lucu, tetapi tidak bagi lelaki silver. Baginya, istri adalah rumah. Ketika rumah itu tiba-tiba hilang dari pandangan, ia tidak tahu harus pulang ke mana.
“Mas, kamu tidak perlu ditangkap. Kamu tidak sedang melakukan pelanggaran di sini. Yang penting kamu sudah tahu aturannya. Di Jogja tidak boleh meminta-minta di jalan. Dan menjadi manusia silver seperti ini juga tidak baik untuk kesehatan,” ujar saya kemudian.
Ia mendengarkan dan mengangguk.
“Kalau memang ingin bertemu istri, nanti kami bantu,” lanjut saya.
Untuk pertama kali sore itu, mata lelaki silver sedikit berbinar.
Melihat tubuhnya yang penuh cat silver saya memberi arahan untuk mandi terlebih dulu, sebelum bertemu sang istri. Ia pun menurut dan masuk kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, warna silver telah menghilang dari tubuhnya. Air yang mengalir meluruhkan cat yang menempel di badan. Warna perak yang menutupi wajahnya perlahan hilang dan di balik itu, muncullah wajah seorang lelaki biasa. Wajah seorang suami yang sedang merindu.
Setelah mandi, kami menawarinya makanan. “Makan dulu, Mas.”
Ia menggeleng dan berkata, “Minum saja.”
“Lho, kenapa?” tanya saya penasaran.
“Enggak enak makan sebelum ketemu istri,” sahutnya yakin.
Saya kembali terdiam. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang sulit dijelaskan. Ia seperti mengingatkan kami bahwa kebahagiaan terkadang tidak membutuhkan banyak hal. Bagi lelaki itu, makanan tidak terasa nikmat sebelum memastikan, perempuan yang dicintainya baik-baik saja.
Ia pun kembali duduk di sofa dan menunggu. Dalam pikirannya, jarum jam bergerak sangat lambat. Tetapi ia terus menunggu.
Pukul 16.30, petugas mobil patroli datang dan membawanya menuju camp assessment di bilangan Brontokusuman. Lelaki silver naik ke mobil dengan wajah yang tampak lebih tenang.
Mungkin ia mengira, perjalanan itu akan berakhir pada sebuah pertemuan. Mungkin ia membayangkan sang istri yang akan menyambut. Mungkin ia sudah berencana memberi pelukan atau sekadar tersenyum.
Sesampainya di Brontokusuman, senyumnya hilang. Sang istri sudah dipindahkan ke sebuah panti di Bantul. Pasangan itu kembali menjauh dan kembali terpisah.
“Tolong, Pak. Saya dilepas saja. Biar saya langsung ke Bantul,” pinta lelaki silver kemudian.
Ada kecemasan dalam suaranya.
“Mas, tenang. Di sini dulu. Setelah didata, nanti petugas akan membantu,” saya mencoba menenangkannya.
Ia akhirnya diam dan kembali menunggu.
Setelah beberapa saat, kami pun meninggalkan lelaki silver itu untuk menempuh babak baru perjalanannya bersua sang istri.
Seorang lelaki yang datang meminta ditangkap, tapi tidak sedang mencari hukuman. Seorang lelaki yang berusaha mencari jalan menuju istrinya.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya terus kembali kepada satu hal bahwa saya melihat lelaki itu sebagai seorang manusia yang memiliki nama, keluarga, ketakutan, dan harapan. Sore itu, saya melihat sesuatu yang jauh lebih kuat daripada cat silver di tubuhnya, yakni cinta seorang suami kepada istrinya.
Saya tidak tahu bagaimana pertemuan mereka akhirnya. Saya tidak tahu apakah malam itu mereka berhasil bertemu. Saya tidak tahu apakah lelaki itu akhirnya sampai ke Bantul. Tetapi, saya yakin bahwa mereka pada akhirnya akan dipertemukan.
Saya kemudian membayangkan sebuah pertemuan sederhana. Pertemuan itu bukan di hotel, rumah mewah, atau tempat romantis. Mungkin hanya di sebuah ruangan sederhana.
Lelaki silver saya bayangkan berdiri di depan istrinya. Keduanya terdiam. Sang istri lantas melihat wajah sang suami yang sudah bersih dari cat dan berkata, “Kok kamu sampai ke sini?”
Lelaki silver mungkin tersenyum dan menjawab, “Aku kangen.”
Setelah itu, mungkin tidak ada lagi kata-kata. Karena, tak jarang kerinduan terlalu besar untuk dijelaskan dan cukup dengan sebuah pelukan.
Entah mengapa, sampai sekarang saya masih mengingat peristiwa itu dengan jelas. Ketika datang ke Mako dan meminta kami menangkapnya, ia sedang meminta kami menangkap kerinduannya agar bersua sang istri.
Ada orang yang takut kehilangan uang, pekerjaan, atau rumah. Tetapi, lelaki itu takut kehilangan satu-satunya orang yang selama ini membuat hidupnya terasa seperti rumah.
Seorang manusia silver mengajarkan sesuatu yang sederhana kepada kami bahwa manusia boleh miskin harta, tetapi janganlah sampai miskin kasih sayang. Seseorang mungkin tidak memiliki rumah, pekerjaan tetap, pakaian bagus, dan uang. Tetapi, ia memiliki seorang istri yang ia rindukan. Seseorang yang memiliki keluarga, ketakutan, dan harapan.
Bagi sebagian manusia, rumah bukanlah sebuah bangunan, tapi seseorang. Bagi lelaki bercat silver itu, rumah adalah istrinya.
