Benarkah Banyak Pilihan Itu Membahagiakan?
/ Inspirasi
Pasar modern menampilkan varietas yang dianggap paling mudah dijual, paling seragam bentuknya, paling tahan disimpan, paling mudah dikirim, dan paling menguntungkan.
Wahyu Indro Widodo
Pendiri Pustaka WIW Jogja
Pernahkah Anda berdiri cukup lama di lorong supermarket hanya untuk menentukan produk kecap mana yang akan dibeli?
Kelihatannya sederhana, hanyalah kecap. Tetapi, coba perhatikan raknya. Ada puluhan merek di sana. Ada kecap manis, kecap asin, less sugar, organik, ekstra pedas, rasa bawang, dan entah apa lagi. Kemasan pun bermacam-macam. Ada botol plastik, botol kaca, sachet; ukuran kecil sampai jumbo.
Belum lagi memerhatikan harga, komposisi, kandungan nutrisi, izin BPOM, label halal, SNI, tanggal kedaluwarsa, best before, klaim produk lokal, promosi, bonus, sampai hadiah langsungnya.
Akhirnya, tanpa kita sadari, membeli kecap seharga belasan ribu rupiah saja, otak kita dipaksa berpikir seperti sedang memilih calon istri.
Bagaimana kalau belanja online? Bisa jadi, malah lebih parah. Penawaran produk tiba-tiba muncul di beranda medsos kita, seakan gadget kita bisa membaca pikiran kita yang sedang membutuhkan barang.
Kita kemudian scrolling, membandingkan harga, membaca review, melihat rating, membuka lapak lain, kembali lagi ke toko pertama, bolak-balik membandingkan, ketemu dan memasukkan barang ke keranjang, mengeluarkannya lagi, karena mencari alternatif yang mungkin ‘lebih bagus’.
Apa yang terjadi? Tidak jarang sudah seminggu, barang yang dipilih masih nangkring di keranjang belanja. Barangnya belum dibeli, dan kita lelah sendiri. Ya, kita lelah sendiri.
Mungkin inilah salah satu gambaran sederhana yang kata orang-orang pintar disebut paradox of choice. Kita sering mengira, semakin banyak pilihan akan membuat hidup semakin mudah dan menyenangkan. Kenyataannya, terlalu banyak pilihan justru bisa membuat kita bingung, ragu, bahkan tidak puas dan menyesal, dan malah tidak bahagia.
Ruang Hidup yang Menyempit
Belakangan, saya melihat ada paradoks lain yang menurut saya tidak kalah menarik. Kita hidup di zaman ketika pilihan semakin banyak, tetapi sebenarnya pilihan kita terhadap dunia alami justru semakin sedikit.
Saya teringat masa kecil di kampung. Waktu itu, pilihan barang konsumsi tidak sebanyak sekarang. Minyak rambut, misalnya, paling hanya merek Brillcream atau Tancho. Kalau sabun hanya tersedia sabun colek dan sabun batangan. Pilihan produk terbatas membuat orang tidak memikirkan dan menganalisis komposisi serta tetek bengeknya.
Situasi yang sederhana. Tidak ada bintang, jumlah review, rating, unboxing, atau ribuan komentar netizen, hanya harga menjadi salah satu pertimbangan utama.
Tetapi ada satu hal yang sekarang justru terasa janggal, yaitu keberagaman. Dulu, kalau berbicara tentang pisang, kita mengenal banyak sekali jenisnya. Pisang kepok kuning, kepok putih, pisang raja, pisang ambon, pisang susu, pisang raja sereh, pisang sewu, pisang grentel, sampai pisang gendruwo.
Coba saja bertanya kepada anak-anak sekarang, “Sebutkan nama-nama pisang.” Paling-paling mereka hanya bisa menyebut dua atau tiga jenis. Bukan karena jenis pisangnya semakin menyusut, tetapi karena yang mereka kenal semakin sedikit.
Sadarkah kalau kita ‘dipaksa’ memilih sedikit? Pasar modern hanya menampilkan varietas yang dianggap paling mudah dijual, paling seragam bentuknya, paling tahan disimpan, paling mudah dikirim, dan paling menguntungkan secara ekonomi.
Hal yang sama sebenarnya terjadi pada banyak hal lain. Kita punya semakin banyak pilihan jus dalam kemasan, tetapi semakin jarang mengenal jenis-jenis buah apalagi varietas lokal. Kita mempunyai puluhan varietas beras di supermarket dalam bentuk merek, jenis dan kemasan, tetapi mungkin tidak lagi mengenal varietas padi yang dahulu tumbuh di sawah sekitar rumah.
Kita pernah mempunyai puluhan jenis jajan pasar, tetapi anak-anak sekarang justru lebih mengenal corndog, mochi, K-Pop Chicken, dan seterusnya.
Pada titik itulah saya melihat sebuah paradoks yang agak aneh. Dunia manufaktur semakin pintar menciptakan variasi keberagaman, sementara hasil kekayaan alam justru semakin jarang kita jumpai di pasaran.
Mungkin inilah salah satu wajah kehidupan modern. Kita dibanjiri pilihan di ujung rantai konsumsi, tetapi kehilangan pilihan di pangkalnya. Kita bebas memilih merek, tetapi tidak selalu bebas memilih varietas. Kita bebas memilih rasa, tetapi semakin sedikit mengenal bahan asalnya. Dan yang paling menarik, proses itu berjalan begitu halus, sehingga kita hampir tidak menyadarinya.
Kita lalu sampai pada pertanyaan yang agak mengganggu, “Benarkah kehidupan modern membuat kita memiliki semakin banyak pilihan? Atau jangan-jangan kita hanya diberi semakin banyak pilihan atas sesuatu yang sudah terlebih dahulu dipilihkan, di-set, dan dirancang untuk kita?
Mungkin kita perlu berpikir bahwa bukan hanya bertanya ‘apa yang bisa saya pilih’, tetapi juga ‘apa yang sudah tidak lagi saya kenal’.
Barangkali, di tengah dunia yang menawarkan semakin banyak pilihan, kebijaksanaan bukan lagi soal seberapa banyak yang bisa kita pilih, melainkan seberapa sadar kita memilih. Sebab, pada akhirnya, hal yang paling sulit ditemukan bukanlah pilihan, tetapi keberagaman.
