Ekspedisi Patriot UGM Berakhir, Prof Suratman: Transformasi Transmigrasi adalah Keniscayaan
/ Jogjawarta
Diperlukan strategi pengembangan komoditas sesuai karakter kawasan.
LAKUDO, Buton Tengah | Tim Universitas Gadjah Mada menjalankan tugas Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Program Ekspedisi Patriot 2025 Kawasan Mawasangka yang berlokasi di Kabupaten Buton Tengah, Provinsi Sulawesi Tenggara. Berlangsung dari Minggu (30/11/2025) hingga Kamis (4/12/2025), sejumlah rekomendasi strategis lahir.
“Dengan digitalisasi yang semakin canggih, transformasi transmigrasi adalah keniscayaan. Jangan pernah berpikir bahwa transmigrasi itu hanya pindah badan, tapi juga lahirnya kawasan perekonomian baru yang sanggup berkompetisi secara global,” ujar PIC Tim Kawasan Mawasangka Output 1, Suratman, di Fakultas Geografi UGM, Jumat, (5/12/2025).
Beberapa bulan sebelumnya, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Mawasangka datang terlebih dahulu untuk melakukan riset, identifikasi potensi, pendampingan UMKM, dan merancang strategi pembangunan ekonomi kawasan secara aplikatif, demi mewujudkan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis data dan kolaborasi.
TEP terdiri dari para akademisi, dosen, alumni, dan mahasiswa unggulan sejumlah perguruan tinggi, termasuk UGM. Bagian dari program nasional Transmigrasi Patriot atau Trans-Patriot itu mengirimkan tim ke kawasan transmigrasi.
Wilayah pesisir barat kawasan transmigrasi Mawasangka memiliki karakteristik ekologis yang sangat mendukung pengembangan subsektor perikanan budidaya, khususnya rumput laut dan komoditas bernilai ekonomi tinggi, seperti kerapu dan lobster.
Sejumlah tiga kecamatan memiliki keunggulan masing-masing. Kecamatan Mawasangka unggul dalam hal komoditas payau, seperti udang, kepiting, dan Teri. Karena dekat dengan Teluk Lasori, Kecamatan Mawasangka Tengah unggul pada budidaya lautnya dengan komoditas lobster, rajungan teluk, dan ikan teri. Sementara Mawasangka Timur potensial untuk rumput laut dan sebagian komoditas laut lainnya, seperti kepiting.
Bukan hanya itu, Mawasangka juga memiliki komoditas unggulan budidaya jambu mete, vanili, nilam, ubi, dan kelapa.
TEP Mawasangka merekomendasikan kebutuhan akan integrated marine and land development dengan daya dukung pusat riset dan living laboratory, serta terintegrasi dengan Sekolah Rakyat dan Universitas.
Tim merekomendasikan strategi pengembangan komoditas, sesuai karakter kawasan. Kecamatan Mawasangka berkarakter pesisir dan laut serta kuat dalam aktivitas perikanan tangkap, khususnya komoditas ikan teri.
Selanjutnya, Kecamatan Mawasangka Tengah memiliki potensi perkebunan, seperti mete dan kelapa serta budidaya rajungan teluk. Sementara Mawasangka Timur menunjukkan kecenderungan sebagai kawasan pertanian campuran dan budidaya pesisir.
Tim juga merekomendasi penguatan kelembagaan petani atau pelaku usaha, berupa revitalisasi kelompok tani, pembentukan atau penguatan koperasi produsen perikanan, serta pelatihan teknis dan non-teknis, manajemen usaha, pemasaran digital, standarisasi produk, literasi keuangan, dan pengelolaan risiko.
Rekomendasi ketiga, pembuatan Master Plan Kawasan Laut yang terintegrasi dengan kearifan lokal, berupa penyusunan rencana Pembangunan Kawasan Berbasis Komoditas, penyusunan regulasi daerah untuk mendorong kemitraan yang adil dan transparan, serta kebijakan konservasi sumber daya alam.
Penciptaan Nilai Ekonomi
Prof Suratman menuturkan, transmigrasi bukan lagi sekadar program pemindahan penduduk, tetapi sebuah strategi pembangunan wilayah terpadu yang didorong oleh semangat nasionalisme, didukung perencanaan yang matang, diwujudkan melalui kolaborasi, dan berorientasi pada kemandirian serta penciptaan nilai ekonomi.
“Model mutakhir mengedepankan outcome-oriented , yakni berfokus pada pertumbuhan ekonomi kawasan, kemandirian masyarakat, dan keberlanjutan. Bukan lagi pembangunan fisik rumah dan lahan awal,” terangnya.
Ia berpandangan, transmigrasi menjadi salah satu instrumen penting untuk menggerakkan transformasi, juga strategi penciptaan pusat pertumbuhan baru yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Bupati Buton Tengah, Azhari, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menindaklanjuti rekomendasi TEP Mawasangka.
“Apa yang menjadi hasil ekspedisi ini akan kami tindak lanjuti secara serius. Kami berharap Buton Tengah dapat menjadi kawasan binaan UGM, terutama dalam pemberdayaan kawasan timur Indonesia,” ucap Bupati Azhari.
Di sektor pertanian, Pemkab Buton Tengah telah memulai langkah strategis dengan menanam 3.500 pohon Kelapa Genjah sebagai komoditas masa depan. Pemkab telah menyiapkan lahan pengembangan pusat riset serta siap memformalkannya melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan berbagai instansi dan kementerian terkait.
Bupati juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan kebudayaan. Dari sisi sosial dan budaya, kearifan lokal masyarakat Buton Tengah yang tetap lestari begitu menarik dijadikan objek studi.
“Segala ide yang memperkaya pembangunan daerah akan kami dukung. Besar harapan kami, kolaborasi ini menjadikan Buton Tengah sebagai laboratorium nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Azhari.
