Indonesia, dari Kaya Sumber Daya Alam menjadi Kaya Inovasi
/ Opini
Indonesia 2045 membutuhkan paradigma baru, yakni Innovation-Democraticpreneurship.
Suparwoko
Guru Besar Arsitektur
Universitas Islam Indonesia
Beberapa hari terakhir, perhatian publik tertuju pada agenda hilirisasi, transformasi industri, dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan daya saing nasional.
Reuters edisi Senin (22/6/2026) memberitakan pemerintah Indonesia yang tengah menyiapkan peta jalan pemanfaatan AI pada berbagai program strategis nasional sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing global.
Berita ini menunjukkan bahwa Indonesia mulai menyadari bahwa masa depan kemakmuran bangsa tidak lagi hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam (SDA), tetapi juga oleh kemampuan menciptakan dan menguasai inovasi.
Selama puluhan tahun, Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan nikel, batu bara, minyak bumi, gas alam, kelapa sawit, hasil laut, serta keanekaragaman hayati tropis. Namun, sejarah menunjukkan bahwa kekayaan SDA tidak otomatis menghasilkan kemakmuran.
Banyak negara kaya sumber daya justru terjebak dalam apa yang disebut resource curse atau kutukan sumber daya. Ketika ekonomi terlalu bergantung pada komoditas mentah, nilai tambah terbesar justru dinikmati oleh negara lain yang menguasai teknologi, industri, dan inovasi.
Paradoks tersebut masih dihadapi Indonesia. Kita mengekspor bahan mentah, tetapi mengimpor teknologi. Kita kaya mineral, tetapi belum menjadi pusat inovasi dunia. Kita memiliki bonus demografi, tetapi produktivitas dan daya saing masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia Timur.
Dalam konteks inilah, hilirisasi menjadi langkah penting. Namun, hilirisasi saja belum cukup. Hilirisasi tanpa inovasi berisiko hanya memindahkan posisi Indonesia dari eksportir bahan mentah menjadi produsen setengah jadi.
Nilai tambah memang meningkat, tetapi penguasaan teknologi strategis belum tentu tercapai. Oleh karena itu, hilirisasi harus dilanjutkan dengan agenda yang lebih besar, yaitu inovasi nasional. Indonesia perlu bergerak dari resource-based economy menuju innovation-based economy.
Negara-negara yang kini menjadi kekuatan ekonomi dunia tidak semata-mata kaya SDA. Jepang memiliki sumber daya alam terbatas, tetapi unggul dalam teknologi. Korea Selatan tidak memiliki cadangan mineral sebesar Indonesia, tetapi mampu menjadi pusat industri elektronik dan otomotif global.
Israel bahkan dikenal sebagai startup nation karena kekuatan inovasinya. Pelajaran yang dapat diambil sangat jelas bahwa kekayaan sejati abad ke-21 bukan lagi terletak pada apa yang ada di bawah tanah, melainkan pada apa yang ada di dalam pikiran manusia.
Karena itu, Indonesia memerlukan gerakan besar membangun budaya inovasi, melalui strategi kemandirian ekonomi dan kesejahteraan Indonesia. Universitas harus menjadi pabrik pengetahuan dan paten, bukan sekadar pabrik ijazah. Penelitian harus menghasilkan teknologi yang dapat dihilirisasikan menjadi produk dan industri. Dunia usaha perlu didorong untuk berinvestasi pada riset dan pengembangan. Pemerintah harus memperkuat ekosistem Hak kekayaan intelektual (HKI), paten, startup teknologi, serta pembiayaan inovasi.
Innovation-Democraticpreneurship
Meski demkian, inovasi saja juga tidak cukup. Kekayaan yang diciptakan harus dapat dinikmati secara luas oleh masyarakat. Di sinilah pentingnya demokrasi ekonomi melalui usaa mikro kecil dan menengah (UMKM), koperasi modern, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan kewirausahaan sosial.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa pemerataan hanya akan memperlebar ketimpangan. Sebaliknya, pemerataan tanpa penciptaan nilai baru juga tidak akan menghasilkan kemakmuran berkelanjutan.
Indonesia 2045 membutuhkan paradigma baru, yakni Innovation-Democraticpreneurship. Inovasi menjadi mesin pencipta kekayaan, sedangkan demokrasi ekonomi menjadi mekanisme distribusi kemakmuran. Hilirisasi meningkatkan nilai tambah nasional, sedangkan tata kelola yang baik memastikan hasil pembangunan tidak bocor karena korupsi dan inefisiensi.
Visi Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai hanya dengan mengandalkan kekayaan SDA. Bangsa ini harus bertransformasi menjadi bangsa inovator, bangsa pencipta teknologi, dan bangsa yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kemakmuran.
Masa depan Indonesia bukan ditentukan oleh berapa banyak sumber daya yang dimiliki, tetapi oleh seberapa besar kemampuan mengubah sumber daya tersebut menjadi inovasi yang memberi manfaat bagi seluruh rakyat. Itulah jalan menuju Indonesia yang mandiri, maju, dan makmur.
