Konstruksi Bambu di Green School Bali. (Wiryanto Dewobroto)
Ketika Bambu dan Ijuk Menumbuhkan Wisata Hijau : Konstruksi Bambu di Green School Bali. (Wiryanto Dewobroto)
Konstruksi Bambu di Green School Bali. (Wiryanto Dewobroto)

Ketika Bambu dan Ijuk Menumbuhkan Wisata Hijau

Apakah kekayaan akan bambu, ijuk, dan pengetahuan membangun yang beragam mampu menyejahterakan?


Suparwoko
Guru Besar Arsitektur
Universitas Islam Indonesia

 

Indonesia diharuskan tetap waspada terhadap kebakaran hutan dan lahan, karena gambut dapat kembali menyala di tengah cuaca panas dan kering. Demikian laporan Reuters edisi Senin (5/10/2026).

Peringatan itu seyogianya dibaca dalam perspektif yang lebih luas. Krisis iklim seakan meminta kita untuk meninjau cara membangun, berwisata, dan mengelola sumber daya hutan, bukan hanya cara menjaganya.

Oleh karenanya, dalam kacamata arsitektur, gagasan bangunan yang ramah lingkungan wajib menjawab kebutuhan nyata sekaligus membuktikan keselamatannya. Pada titik inilah eco-lodge modular berbahan bambu laminasi dan atap ijuk menawarkan arah yang patut dikembangkan.

Rancangannya memakai sistem modular knock-down, yaitu komponen modular yang dibuat lebih dahulu lalu dirakit di Lokasi yang direncanakan. Cara ini berpotensi mengurangi pekerjaan berat di tapak, memudahkan pengiriman ke daerah wisata, dan membuka ruang bagi tenaga kerja lokal.

Pada konteks lingkungan, wisatawan ekologi, operator resort terpencil, desa wisata, pemerintah daerah, serta lembaga lingkungan merupakan calon pengguna bangunan eco-lodge. Gagasan ini relevan bagi negara yang hendak menghubungkan pariwisata dengan nilai tambah bahan lokal dan keterampilan setempat.

Daya tariknya bukan semata kesan alami. Bambu laminasi diolah menjadi komponen bangunan, sementara atap ijuk memperoleh kerangka teknis melalui paten Atap Berbahan Dasar Tali Ijuk, IDS000007577. Rancangan paten tersebut menyusun substrat GRC atau kayu, lapisan kedap air dan pengikat, serta tali ijuk berdiameter 4-8 milimeter yang dirangkai melintang dan memanjang.

Inovasi semacam ini dapat menjembatani pengetahuan material tradisional dengan kebutuhan konstruksi masa kini. Paten melindungi invensi dan bukan sertifikat yang membuktikan seluruh kinerja bangunan.

Nilai arsitekturnya pun perlu siap diuji, dan bukan diasumsikan dari bentuk. Orientasi bangunan, bukaan, ventilasi silang, naungan, dan pencahayaan alami menentukan apakah penghuni sungguh nyaman tanpa terlalu bergantung pada pendingin mekanis.

Pengukuran pada waktu dan kondisi cuaca berbeda akan menunjukkan bagian desain mana yang bekerja dan mana yang perlu diperbaiki. Dengan begitu, keunggulan tipologi bangunan tropis menjadi bukti yang bisa direplikasi, dan bukan sekadar citra.

Pengujian yang diperlukan yaitu mengukur apakah sambungan mudah dirakit ulang, apakah struktur aman, bagaimana suhu dan aliran udara di ruang, serta berapa lama atap dan komponen bertahan terhadap hujan, lembap, dan paparan cuaca.

Mengingat isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), karakter respons material dan sistem bangunan terhadap api juga patut dipertimbangkan sesuai standar yang berlaku. Hasilnya dicatat dengan metode dan kondisi yang jelas. Tanpa itu, klaim nyaman, tahan lama, rendah karbon, atau aman hanya akan menjadi bahasa promosi.

Pembagian Peran

Pemerintah daerah dan pengelola destinasi dapat menjadi mitra uji coba banguan eco-lodge bambu laminasi, sedangkan perguruan tinggi mengawal protokol pengukuran dan evaluasi. Pelatihan perakitan serta pemeliharaan bagi warga akan memastikan manfaat yang tidak berhenti pada penjualan unit, namun tumbuh menjadi keahlian dan pekerjaan lokal.

Selanjutnya, uji pembeli, biaya angkut, kebutuhan perawatan, dan model pendapatan wajib menyertai penyelesaian purwarupa. Apakah unit dijual, disewakan, atau menjadi bagian paket wisata edukasi, jawabannya perlu datang dari calon pengguna dan hitungan yang dapat mearik secara bisnis.

Pada sisi kebijakan, program ekowisata perlu memberi ruang bagi bahan dan teknologi lokal, tetapi bantuan publik sebaiknya diberikan bertahap berdasarkan bukti. Tahap pertama mendanai uji kelayakan dan pematangan prototipe. Tahap berikutnya baru mendorong pengadaan atau replikasi setelah standar, biaya siklus hidup, kemampuan pasokan, dan dampak bagi warga dapat diperiksa.

Skema ini melindungi anggaran sekaligus mencegah inovasi berhenti sebagai bangunan percontohan. Kemitraan universitas, industri, dan pemerintah daerah perlu membagi tanggung jawab dengan target terukur.

Indonesia memiliki kekayaan bambu, ijuk, dan pengetahuan membangun yang beragam. Tantangannya ialah mengubah kekayaan itu menjadi produk yang memenuhi keselamatan, kenyamanan, mutu, dan manfaat ekonomi.

Eco-lodge modular knockdown dapat menjadi laboratorium kecil untuk menguji perpaduan tersebut, dan bukan jalan pintas menuju label hijau. Jika pengujian tuntas, data terbuka, dan masyarakat ikut memperoleh manfaat, atap ijuk dapat menaungi lebih dari ruang inap, yakni model hilirisasi yang tumbuh dari kawasan perdesaaan dan layak dipercaya.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik