Ketika QRIS dan Tawar-Menawar Bertemu di Pasar Tradisional
/ Inspirasi
Transformasi digital yang bergulir di pasar-pasar rakyat Kota Yogyakarta menegaskan bahwa modernitas dan tradisi tidak saling menegasikan.
Gunawan Nugroho Utomo
Kepala Bidang Pasar Rakyat
Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta
Apakah digitalisasi akan menghilangkan jiwa asli sebuah pasar tradisional? Banyak pihak khawatir bahwa sentuhan layar ponsel, kode batang, dan transaksi nirsentuh dapat mengikis kehangatan interaksi, aroma khas komoditas segar, serta budaya tawar-menawar yang telah berurat akar selama berabad-abad.
Namun, potret nyata di Kota Yogyakarta justru menyajikan cerita sebaliknya. Di bawah bayang-bayang modernisasi ritel, Pemerintah Kota Yogyakarta membuktikan bahwa adopsi teknologi bukanlah akhir dari pasar tradisional.
Teknologi justru menjadi jangkar penyelamat yang memperpanjang napas eksistensinya. Transformasi digital tidak dirancang untuk menggusur nilai-nilai lama, tetapi sebagai jembatan warisan masa lalu dengan tuntutan masa depan.
Menghadapi pergeseran pola konsumsi masyarakat yang kian menuntut kepraktisan, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, khususnya melalui Dinas Perdagangan (Disdag), bergerak agresif meluncurkan berbagai program strategis. Langkah ini dirancang secara terukur untuk menaikkan kelas pasar tradisional menjadi pasar rakyat modern yang berbasis ekosistem hybrid.
Pilar utama dalam transformasi tersebut adalah perombakan sistem transaksi finansial. Pemkot Yogyakarta secara masif mengintegrasikan sistem Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di puluhan pasar tradisional melalui program Gemati Pasar (Gemar Mencintai Pasar). Melalui kolaborasi erat bersama Bank Indonesia dan perbankan daerah seperti BPD DIY, para pedagang kini dibekali fasilitas pembayaran digital.
Tidak berhenti pada transaksi konsumen, sistem internal pasar pun ikut dirombak melalui penerapan E-Retribusi. Langkah itu terbukti efektif menutup celah kebocoran anggaran, meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), sekaligus membiasakan ekosistem pedagang dengan pengelolaan keuangan yang akuntabel dan melek teknologi.
Namun, Pemkot Yogyakarta sangat menyadari bahwa hambatan terbesar digitalisasi terletak pada kesiapan sumber daya manusia. Banyak pedagang senior tergolong ke dalam kelompok digital immigrant atau bahkan gagap teknologi.
Guna mengatasi jurang literasi ini, Pemerintah Kota rutin menyelenggarakan pelatihan berkala yang melibatkan mentor teknologi, akademisi, dan perbankan. Program edukasi tersebut mengajarkan keterampilan praktis, mulai dari cara memotret produk secara menarik, mengelola pembukuan digital lewat aplikasi khusus, hingga memaksimalkan fitur WhatsApp Business untuk menjaga loyalitas pelanggan setia.
Pedagang tidak dibiarkan berjalan sendiri. Mereka didampingi secara persuasif agar tidak merasa terasing oleh teknologi baru.
Untuk memicu gairah adopsi teknologi secara massal, Pemkot Yogyakarta juga menggelar event-event besar secara periodik. Salah satunya adalah Beringharjo Great Sale. Festival belanja ini memberikan insentif berupa potongan harga atau cashback khusus bagi konsumen yang bertransaksi menggunakan kanal nontunai.
Pendekatan berbasis festival itu terbukti sukses meruntuhkan kecemasan awal para pedagang, sekaligus membuktikan secara langsung bahwa teknologi mampu mendatangkan omzet yang lebih melimpah bagi usaha mereka.
Menjaga Identitas
Ketika deretan kode QR terpampang di tiang-tiang kayu pasar tradisional, apakah kata ‘tradisional’ yang melekat pada pasar-pasar ini masih relevan?
Jawabannya terletak pada pemahaman bahwa digitalisasi hanyalah sebuah transformasi media operasional, bukan transformasi substansi kebudayaan. Teknologi tidak akan mampu melarutkan brand kuat dari pasar tradisional, karena identitas fundamentalnya ditopang oleh nilai-nilai yang tidak dapat digantikan oleh algoritma digital mana pun.
Ciri mutlak yang membedakan pasar tradisional dengan toko modern (supermarket) atau platform e-commerce raksasa adalah adanya ruang kompromi harga melalui tawar-menawar.
Di pasar rakyat Yogyakarta yang telah terdigitalisasi, esensi itu tidak pernah hilang. Pembeli tetap datang ke lapak, memilah kualitas sayur atau memegang tekstur kain batik, lalu melakukan negosiasi harga secara verbal dengan pedagang.
Ketika kesepakatan harga tercapai, barulah teknologi mengambil peran. Bukan sebagai penentu nilai barang, namun media penyelesaian pembayaran lewat pemindaian QRIS yang instan. Bahkan pada platform aplikasi belanja pasar lokal, fitur negosiasi harga secara daring sengaja disematkan demi mereplikasi interaksi asli di dunia nyata. Teknologi justru melestarikan budaya lokal dalam format yang lebih efisien.
Selain tawar-menawar, pasar tradisional sejatinya adalah sebuah ruang sosial kultural, tempat di mana ikatan kemanusiaan dirajut secara erat. Istilah ‘langganan’ dalam kultur masyarakat Jawa bukan sekadar hubungan transaksional antara penjual dan pembeli, tetapi ikatan emosional yang melibatkan rasa saling percaya, tegur sapa menanyakan kabar keluarga, hingga bonus sejumput cabai atau bawang yang diberikan secara sukarela (imbuh).
Digitalisasi melalui penggunaan grup WhatsApp Business atau aplikasi pesan antar lokal justru memperluas jangkauan modal sosial ini. Pedagang dapat mengabarkan ketersediaan barang segar langsung kepada kelompok pelanggannya, mempertahankan sentuhan personal lewat pesan teks yang ramah, dan memfasilitasi transaksi tanpa harus memutus rantai keintiman emosional yang telah terbangun bertahun-tahun.
Brand pasar tradisional Yogyakarta juga melekat erat pada keaslian produk lokal serta pengalaman sensorik yang ditawarkannya. Aroma jamu seduh tradisional di sudut pasar, warna-warni jajan pasar yang tertata di tampah bambu, hingga eksotisme arsitektur bangunan pasar merupakan daya tarik wisata budaya yang tidak akan bisa digantikan oleh bilik belanja digital.
Digitalisasi di sini bertindak sebagai etalase dunia luar. Media sosial dan platform digital dimanfaatkan untuk mempromosikan keunikan tersebut ke skala global, mengundang wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang dan merasakan langsung pengalaman berbelanja yang autentik di Yogyakarta.
Transformasi digital yang bergulir di pasar-pasar rakyat Kota Yogyakarta menegaskan sebuah tesis penting bahwa modernitas dan tradisi tidak saling menegasikan. Melalui langkah taktis Pemkot Yogyakarta dan keterbukaan sikap para pedagang, pasar tradisional sukses bertransformasi menjadi ruang hybrid yang tangguh. Digitalisasi terbukti tidak menyingkirkan identitas kultural pasar rakyat.
Teknologi justru menjadi perisai pelindung yang memastikan bahwa riuh rendah tawar-menawar, hangatnya silaturahmi antar-manusia, dan denyut nadi ekonomi wong cilik di Kota Gudeg akan tetap lestari, relevan, dan terus hidup melintasi zaman.
