Ketika Sehat Menjadi Bahan Bakar Perubahan
/ Literatur
Para aktivis sering mengabaikan tanda-tanda kelelahan fisik seolah-olah mesin yang tidak akan pernah aus.
Budi Gunawan Sutomo
Chief Editor Jogja Daily
Yogyakarta selalu punya tempat yang sangat istimewa di dalam peta sejarah dan pergerakan kebangsaan Indonesia. Bagi saya, Jogja adalah kawah candradimuka bagi gagasan-gagasan besar tentang masa depan bangsa.
Pada masa kekinian, dari kelompok-kelompok diskusi akademis di kampus-kampus, hingga dinamika pemikiran Islam yang progresif di lingkungan Muhammadiyah, Jogja telah berhasil melahirkan tokoh-tokoh nasional sekaliber Anies Baswedan atau Budiman Sudjatmiko.
Meski dahulu saya berproses sebagai aktivis mahasiswa di Kota Solo, perjuangan itu tidak pernah bisa dilepaskan dari akar Yogyakarta. Solo dan Jogja adalah dwi-tunggal kultural dan aktivisme mahasiswa yang mengawal berbagai agenda perubahan nasional pada masanya.
Perjalanan aktivisme yang saya jalani berjalin berkelindan di antara kedua kota ini, tempat saya menempa kesadaran kritis, menggembleng idealisme, dan menyerap energi pergerakan yang membentuk jati diri saya.
Terlebih lagi, dengan keberadaan Yogyakarta yang menaungi lebih dari 100 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, Kota Gudeg memegang peranan yang sangat strategis sebagai rahim intelektual Nusantara yang menyuplai pemikir dan penggerak perubahan dari Sabang sampai Merauke.
Di Jogja, tradisi pergerakan tumbuh secara dewasa dan tidak sektoral, serta merajut berbagai latar belakang ideologi, suku, agama, dan golongan ke dalam satu semangat kebangsaan inklusif dan terbuka bagi siapa saja yang merindukan keadilan.
Namun, di balik riuhnya diskursus politik, perdebatan ideologis, dan idealisme tinggi kaum terpelajar di basis-basis pergerakan, saya menyadari ada satu sisi kemanusiaan yang sangat mendasar namun ironisnya sering kali luput dari perhatian kita semua, yakni kerapuhan raga para pelakunya sendiri.
Para aktivis sering kali mondar-mandir dengan begitu bersemangat dalam merumuskan teori-teori perubahan sosial, mengkritisi kebijakan publik, atau berteriak membela keadilan di jalanan, tetapi lupa bahwa tubuh yang dimiliki juga menuntut haknya untuk dirawat dan dihormati batas-batas biologisnya.
Para aktivis sering mengabaikan tanda-tanda kelelahan fisik, menganggap enteng jam istirahat, dan memperlakukan raga seolah-olah ia adalah mesin yang tidak akan pernah aus.
Realitas pahit inilah yang saya kupas secara jujur dan reflektif dalam buku memoar perdana saya bertajuk Selesai: Memoar Sirosis Mantan Aktivis.
Karya yang Membebaskan
Buku ini lahir dari sebuah permenungan panjang yang melelahkan sekaligus membebaskan. Sebuah ikhtiar batin untuk membuka lembaran-lembaran hidup yang selama ini mungkin tertutup rapat oleh kebanggaan semu dunia pergerakan.
Karya saya memotret tubrukan telak antara ingar-bingar idealisme pergerakan dengan determinasi biologis tubuh manusia yang rapuh. Sebagai seorang Sarjana Teologi Islam yang pernah ditempa dalam kerasnya dunia aktivisme jalanan, saya tidak menulis memoar sekadar bernostalgia atau romantisme masa lalu yang terkadang, membuai pembaca dalam ilusi heroisme murahan.
Saya secara blak-blakan membongkar masa lalu saya, termasuk adiksi di masa remaja yang tanpa saya sadari baru menagih utang biologisnya seperempat abad kemudian dalam bentuk vonis sirosis hati stadium F4.
Ditopang fasilitas jaminan kesehatan dan perawatan medis yang intensif di rumah sakit, saya harus berhadapan langsung secara jantan dengan ‘angka-angka dingin’ hasil laboratorium, mulai dari anjloknya kadar hemoglobin hingga kekakuan organ tubuh yang sama sekali tidak bisa ditawar, dibeli, atau dinegosiasikan oleh retorika politik setinggi apa pun.
Di hadapan vonis medis yang keras, retorika agitasi kehilangan kuasanya. Hal yang tersisa hanyalah pertanggungjawaban personal atas pilihan-pilihan hidup yang pernah diambil di masa lampau.
Bagi publik Jogja, Solo, dan sivitas akademika dari lebih dari seratus perguruan tinggi tersebut, saya berharap buku Selesai dapat menawarkan sebuah ruang kontemplasi mendalam demi kemaslahatan lebih luas.
Mengingat kampus-kampus di poros Jogja-Solo adalah inkubator utama bagi masa depan Indonesia, kesadaran atas kesehatan fisik dan mental para kaum mudanya adalah fondasi mutlak yang tidak boleh diabaikan begitu saja.
Generasi muda tidak hanya dipersiapkan untuk cerdas secara akal dan tajam secara analisis politik, tetapi juga wajib dibekali dengan kesadaran ekologis terhadap tubuhnya sendiri.
Dengan meminjam renungan filosofis tentang waktu, Mite Sisifus, hingga audit batin yang jujur tanpa kompromi, buku ini mengingatkan kita semua bahwa heroisme di jalanan atau kebesaran nama seorang tokoh tidak akan pernah sanggup menyelamatkan siapa pun dari hukum alam biologisnya sendiri.
Tubuh memiliki batas, dan pengabaian atas kesehatan bukanlah bentuk pengorbanan yang mulia, melainkan sebuah bentuk kelalaian yang mahal harganya.
Maklumat Keberanian
Pada akhirnya, buku saya bukanlah sebuah risalah pesimisme yang mengajak orang untuk menyerah pada keadaan. Sebaliknya, Selesai adalah sebuah maklumat terang-terangan tentang keberanian untuk berdamai dengan kenyataan hidup yang pahit.
Dari sinilah kita dapat merajut sebuah kesimpulan besar yang komprehensif bahwa hubungan erat antara aktivisme di Kota Solo, basis pergerakan di Kota Jogja, dan masa lalu yang buruk bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, disangkal, atau diabaikan begitu saja. Kegelapan dan kesalahan di masa remaja justru menjadi fondasi paling jujur bagi proyeksi kepemimpinan nasional di masa depan.
Kepemimpinan yang matang, bijaksana, dan tahan uji tidak lahir dari manusia-manusia steril tanpa cacat yang tidak pernah mengenal ujian hidup, tetapi dari mereka yang berani menatap masa lalunya yang retak, merawat raga dan batinnya secara utuh, serta mendedikasikan hidupnya kembali demi kemaslahatan bangsa.
Buku ini dipersembahkan kepada kaum intelektual, akademisi, dan aktivis muda agar senantiasa sadar bahwa menjaga kesehatan jiwa dan raga adalah bagian mutlak dari pertanggungjawaban hidup.
Sebab, pada titik akhir kehidupan, kemenangan bukanlah tentang seberapa lama kita mampu menguasai panggung dunia, tetapi seberapa jujur kita merangkul keluarga, merawat batin, dan menutup lembar akhir dengan kepala tegak.
