Membebaskan Diri dari Penjara Materi
/ Literatur
Pemikiran Sayyid Qutb dalam Al-Mustaqbal li-Hadza ad-Din menjawab krisis eksistensial modern.
Ichwan A. Basri
Pakar Ekonomi Islam
Ada sebuah getaran intelektual unik ketika saya mengenang kembali tahun 1981 atau 1982. Pada masa itu, di tengah gemuruh perdebatan ideologis Perang Dingin antara Blok Barat yang kapitalis dan Blok Timur yang komunis, kami, generasi muda saat itu, sedang giat-giatnya mencari alternatif tatanan dunia yang lebih adil.
Di sanalah, melalui buku saku berbalut kertas lawas yang khas terbitan Media Dakwah, lini penerbitan legendaris di bawah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) pimpinan Mohammad Natsir, saya pertama kali bersua dengan pemikiran Sayyid Qutb dalam bukunya Al-Mustaqbal li-Hadza ad-Din (Masa Depan di Tangan Islam). Sebetulnya, ada juga terjemahan versi lainnya yang dilakukan oleh Djamaludin Kafie.
Bagi saya, Sayyid Qutb memiliki kemampuan sastra yang luar biasa untuk memproyeksikan ayat-ayat Al-Quran menjadi pemandangan yang hidup, bernyawa, dan bergerak tepat di depan mata saya.
Namun, hal yang paling membekas dalam ingatan saya selama lebih dari empat dekade adalah bagaimana Qutb secara taktis meminjam argumen dari para pionir Barat sendiri, filsuf agnostik Bertrand Russell dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Foster Dulles, untuk sampai pada batas terjauh penguasaan duniawi peradaban materi.
Lebih dari 40 tahun telah berlalu sejak saya melahap habis lembaran buku tersebut. Hari ini, pada abad ke-21, apa yang dahulu diproyeksikan Sayyid Qutb ternyata bukan lagi sekadar teori di atas kertas, tetapi realitas sosial yang terpampang nyata.
Krisis Eksistensial
Peradaban Barat modern telah mencapai puncak tertingginya dalam penguasaan dunia materi, sains, dan teknologi. Namun, di balik kemegahan material tersebut, manusia modern justru menghadapi krisis eksistensial yang paling akut, mulai dari relativisme moral, epidemi kesepian (loneliness epidemic), hingga disorientasi arah hidup. Gejala ini membuktikan bahwa kemajuan fisik tanpa jangkar spiritual yang absolut akan bermuara pada keputusasaan.
Lebih dari enam dekade lalu, pemikir Islam terkemuka Sayyid Qutb telah memproyeksikan krisis ini melalui karyanya yang monumental, Al-Mustaqbal li-Hadza ad-Din (Masa Depan di Tangan Islam). Diskusi mengenai buku ini yang marak di kalangan intelektual muda Indonesia pada awal 1980-an melalui terbitan Media Dakwah, kini menemukan relevansi tertingginya pada abad ke-21.
Sayyid Qutb secara taktis menghadirkan dua figur raksasa Barat dari dua kutub yang berbeda untuk membuktikan kebuntuan peradaban materi dari dalam sistem.
Pertama, John Foster Dulles, seorang saksi politik-militer. Sebagai arsitek politik luar negeri AS di puncak era Perang Dingin, Dulles mengakui secara jujur bahwa Barat kekurangan ‘kekuasaan moral yang absolut’. Barat unggul secara materi dan nuklir, namun gagal memenangkan hati dan jiwa manusia karena kekosongan spiritualnya.
Kedua, Bertrand Russell, seorang saksi intelektual-filsafat. Sebagai filsuf agnostik dan logikawan terkemuka, Russell menyuarakan ketakutan eksistensial bahwa sains tanpa kendali moral hanya akan menuntun manusia pada potensi kehancuran massal. Russell adalah representasi manusia Barat yang mulai muak dan terjebak dalam kegelapan materialisme.
Sayyid Qutb menyimpulkan bahwa ketika puncak politik dan puncak filsafat Barat sama-sama mengeluhkan hal yang sama maka bukti objektif bahwa peradaban tersebut telah mencapai batas terjauh dari apa yang bisa dicapai oleh penguasaan duniawi.
Sebagai seorang kritikus sastra yang piawai sebelum menjadi pemikir pergerakan, Sayyid Qutb menggambarkan peradaban Barat dengan diksi sastra yang sangat kuat, Al-Mustanqa’ al-Aasin (Kubangan air keruh yang tidak mengalir atau basi).
Pertama, stagnasi spiritual. Meskipun teknologi bergerak sangat cepat, jiwa manusia Barat mandek karena kehilangan aliran wahyu Ilahi (air kehidupan).
Kedua, penyakit sosial modern. Air yang mandek menjadi sarang tumbuhnya penyakit. Fenomena hari ini, seperti dekonstruksi nilai kodrat manusia, hilangnya kompas moral, dan kehancuran tatanan keluarga, adalah bukti nyata dari pembusukan internal rawa materialisme tersebut.
Menjawab Kesepian Eksistensial ala Sartre dengan Pelita Islam
Filsafat eksistensialisme ateistik Barat yang dipelopori Jean-Paul Sartre menyatakan bahwa manusia ‘dikutuk untuk bebas’ menciptakan maknanya sendiri dari ketiadaan (nothingness). Konsep ini justru melahirkan kesunyian jiwa dan kesepian eksistensial yang mengerikan, karena manusia dipaksa menanggung beban makna jagat raya sendirian.
Sayyid Qutb hadir membawa pelita alternatif melalui dua konsep utama, yakni konsep hakimiyah dan khalifah.
Konsep hakimiyah (kedaulatan Allah) menghilangkan kebutaan arah peradaban dengan memberikan kompas moral yang absolut dari Sang Pencipta. Sementara konsep khalifah menghancurkan absolutisme absurditas Sartre. Manusia bukan makhluk yang tersesat tanpa arti, tetapi utusan di bumi yang eksistensinya sangat berharga dan terhubung langsung dengan Dzat Yang Mahakuasa.
Sebagai pelengkap fundamental, Sayyid Qutb menawarkan konsep Dinul Fitrah sebagai obat penawar mutlak bagi teriakan spiritual yang kosong. Berbeda dengan pandangan Barat sekuler yang melihat jiwa manusia sebagai kertas kosong atau absurditas tanpa arah, Sayyid Qutb menegaskan bahwa setiap manusia dilahirkan dengan kode genetik spiritual yang merindukan kebenaran Ilahi.
Krisis kesepian eksistensial di Barat terjadi akibat pemaksaan tatanan hidup yang melawan arus fitrah kemanusiaan. Ketika materi meniadakan Tuhan, terjadi disonansi spiritual yang akut. Jiwa manusia meronta dan berteriak, karena tidak mendapatkan hak ruhaninya. Kembali kepada Islam adalah jalan pulang natural bagi fitrah manusia yang lelah tersesat di dalam kegelapan materialisme.
Renungan terjauh Sayyid Qutb adalah keyakinan akan adanya ‘konvergensi peradaban’. Manusia boleh saja berkelana mencari kebahagiaan lewat berbagai ideologi buatan akal manusia. Namun, hukum alam (sunnatullah) akan membawa mereka pada titik jenuh total.
Manusia tidak akan pernah bisa menang melawan fitrahnya sendiri. Di ujung keputusasaan dan kegelapan materialisme itu, mereka secara naluriah akan melihat ke arah Islam di ujung sana. Bukan sebagai penaklukan fisik, tetapi sebagai kebutuhan mendasar bagi kemanusiaan untuk bertahan hidup.
Buku Al-Mustaqbal li-Hadza ad-Din terbukti melintasi sekat waktu Perang Dingin era 1980-an dan menjadi sangat profetik hari ini. Krisis mental, depresi global, teriakan spiritual yang kosong, dan kesepian eksistensial masyarakat modern adalah perwujudan nyata dari kubangan air keruh yang didiagnosis oleh Sayyid Qutb lewat kesaksian Russell dan Dulles.
Islam di ujung jalan sejarah bukan sekadar alternatif dogmatis, namun satu-satunya pintu keluar bagi manusia modern untuk membebaskan diri dari penjara materi menuju cahaya fitrah yang murni.
