Menjaga Marwah Bantul oleh Bunda Literasi Kapanewon
/ Inspirasi
Melalui integrasi jaringan PKK dan dasawisma, ilmu pengetahuan bisa sampai ke meja makan dan ruang tamu.
Dian Mutiara Sri Rahmawati
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kabupaten Bantul
Kabupaten Bantul mewujud sebagai sebuah entitas kebudayaan yang teramat luhur. Tanah Projotamansari dirajut oleh nilai kebersamaan, tradisi gotong royong yang mengakar, serta ketangguhan sosial kemasyarakatan yang teruji melintasi berbagai zaman.
Menatap dinamika global pada tahun 2026, marwah yang kita banggakan memerlukan penguatan strategis untuk menghadapi pergeseran nilai sosial. Menjaga identitas daerah menuntut kita untuk terfokus penuh pada pembangunan kapasitas manusianya. Pembangunan Bantul masa kini bertumpu pada fondasi non-fisik yang kukuh, bernama literasi.
Dalam perspektif tata pemerintahan makro, urusan literasi tampil sebagai agenda multidimensi yang melintasi berbagai sektor. Kemampuan masyarakat dalam menyerap dan memilah informasi sesungguhnya menjadi bahan bakar utama bagi terciptanya tata kelola pemerintahan yang bersih dan partisipatif (smart governance).
Masyarakat yang literat diposisikan sebagai mitra terbaik birokrasi demi memastikan setiap rupiah anggaran daerah berdaya guna secara tepat sasaran.
Pada titik inilah, langkah taktis Pemerintah Kabupaten Bantul melalui penguatan kelembagaan Bunda Literasi menemukan momentumnya. Secara khusus, reposisi peran Bunda Literasi yang berbasis di tingkat Kapanewon (Kecamatan) memegang kunci pergerakan yang sangat krusial. Kebijakan terkait didasarkan pada efektivitas arsitektur pembagian wilayah tata pemerintahan.
Kapanewon sebagai Pusat Intelektual
Secara hierarki administrasi, kapanewon bertindak selaku garda depan sekaligus simpul koordinasi terdekat. Wilayah tersebut menjembatani kebijakan makro tingkat kabupaten dengan realitas mikro di tingkat kalurahan (desa), hingga unit terkecil, yaitu keluarga.
Ketika Ibu Panewu secara eks-ofisio mengemban amanah formal sebagai Bunda Literasi Kapanewon, mandat tersebut mengukuhkan penyerahan tongkat komando sebuah gerakan intelektual kewilayahan yang terstruktur. Jabatan tadi memikul tanggung jawab besar yang berdampak nyata bagi masyarakat setempat.
Bunda Literasi Kapanewon menyimpan keunggulan taktis karena mampu bergerak secara inklusif menyentuh aspek emosional kemasyarakatan. Melalui integrasi jaringan PKK dan dasawisma, mereka memiliki kemampuan unik menyusupkan ruh literasi langsung ke jantung pertahanan terkecil keluarga. Mereka membawa ilmu pengetahuan ke meja makan dan ruang tamu.
Fungsi kewilayahan kapanewon juga memungkinkan integrasi program non-fisik menjadi lebih tajam. Sebagai pimpinan dinas yang mengawal urusan literasi dan kearsipan, saya memahami betul bahwa dinamika antar-kapanewon di Bantul sangatlah beragam.
Kapanewon Dlingo, misalnya, menyimpan karakteristik tersendiri yang berbeda dengan Kapanewon Banguntapan atau Kapanewon Sewon. Keberadaan Bunda Literasi memberikan ruang fleksibilitas untuk menyusun sosialisasi bertema lokalitas.
Di wilayah Sewon yang dilewati koridor Sumbu Filosofi Yogyakarta, literasi dapat diarahkan pada penguatan sejarah adiluhung bagi anak-anak usia dini. Sementara di wilayah suburban yang padat, literasi diarahkan untuk membangun daya tahan masyarakat terhadap patologi sosial. Kapanewon sekarang menjelma menjadi sebuah episentrum peradaban dan pusat edukasi publik yang hidup dan dinamis.
Literasi Aksi Demi Ketahanan Keluarga
Menghadapi tantangan riil di lapangan, tugas besar yang dipikul oleh jajaran Bunda Literasi Kapanewon terus berkembang. Agenda besar literasi yang dapat digerakkan secara masif bertumpu pada tiga hal utama demi menegakkan marwah masyarakat Bantul.
Pertama, mencakup literasi kebudayaan dan lokalitas. Kebanggaan akan tanah kelahiran haruslah terus dipupuk di tengah gempuran arus informasi global.
Melalui ruang baca kapanewon, generasi muda Bantul difasilitasi untuk mempelajari sejarah, kearifan lokal, serta kesenian daerahnya sendiri. Mengetahui asal-usul tanah tempat berpijak dicatat sebagai benteng pertahanan terbaik agar mereka tumbuh menjadi manusia modern yang memegang teguh identitas aslinya.
Kedua, bertumpu pada literasi digital dan sosial yang menuntut intervensi segera di tingkat keluarga. Di tengah maraknya ancaman judi online, jeratan pinjaman online ilegal, hingga hoaks, Bunda Literasi Kapanewon hadir selaku filter sosial yang kokoh.
Edukasi mengenai pola asuh digital (digital parenting) menjadi agenda rutin di tingkat kapanewon. Para ibu dibekali pengetahuan mendampingi anak di dunia maya sekaligus memanfaatkan aplikasi Bantulpedia.
Ketiga, mewujud dalam bentuk literasi kesejahteraan berbasis inklusi sosial. Kita perlu memperkuat paradigma bahwa perpustakaan berdiri sebagai pusat pemberdayaan masyarakat yang aktif. Ruang baca bertransformasi menjadi bengkel kerja produktif bagi masyarakat agar aktivitas membaca dikonversikan menjadi tindakan nyata yang mendatangkan kemanfaatan ekonomi.
Masyarakat diajak membaca buku tentang pengolahan sampah mandiri, budidaya pangan pekarangan, hingga strategi pemasaran digital bagi produk UMKM lokal. Gerakan literasi berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penurunan angka kemiskinan secara riil di wilayah masing-masing.
Sebagai bagian dari aparatur yang memimpin roda pembinaan gerakan literasi di lingkungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantul, kami menegaskan komitmen penuh untuk menyokong gerakan tersebut.
Keberhasilan tugas kewilayahan yang diemban oleh para Panewu sangat didukung oleh ruang gerak aktif dari para Bunda Literasi Kapanewon. Jajaran perpustakan dan kearsipan terus memastikan koordinasi kelembagaan berjalan tertib, fasilitasi armada perpustakaan keliling terpenuhi, dan pembinaan ruang baca wilayah berlangsung rapi.
Merawat marwah Kabupaten Bantul menjadi kerja peradaban jangka panjang yang menuntut sinergitas kolektif. Langkah strategis itu memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dari berbagai tingkatan wilayah.
Melalui ketelatenan sentuhan keibuan serta pengorganisasian struktural yang rapi di bawah komando Bunda Literasi Kapanewon, kita menaruh optimisme besar. Cita-cita luhur mewujudkan masyarakat Bantul yang harmonis, sejahtera, dan berkeadilan akan menjelma menjadi realitas nyata di bumi Projotamansari.
