Menyelamatkan Pasar, Mulai dari Mawas Diri Para Ekonom
/ Opini
Lanskap ekonomi abad ke-21 yang digerakkan oleh algoritma adalah ‘galaksi baru’ yang tidak pernah ada dalam buku teks klasik.
Ichwan A. Basri
Pakar Ekonomi Islam
Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), perdebatan klasik di ruang publik selalu berputar pada sumbu yang sama, yakni mengapa Bank Sentral selalu dinilai behind the curve atau terlambat satu langkah dalam menjinakkan inflasi atau menahan arus modal keluar (capital outflow)?
Pasar modal mendikte, media massa mengecam, dan para teoretikus sibuk menunjuk hidung otoritas moneter. Ruang publik berubah ramai. Banyak yang menuduh bank sentral terlambat bertindak bahkan ada yang menilai, salah langkah.
Padahal, apabila menilik lebih dalam, kegagalan bertindak secara antisipatif (preemptive) bukanlah semata kelemahan personal para pejabat bank sentral. Bila tindakan preemptive benar-benar dilakukan, Sang Monetaris Milton Friedman saja tidak menganjurkannya.
Keterlambatan tersebut adalah sebuah keniscayaan struktural ilmu ekonomi. Ironisnya, alih-alih menerima keterbatasan ini dengan kerendahan hati, dunia ekonomi modern tidak jarang terjebak dalam formulanya sendiri dan disandera oleh apa yang disebut sebagai ‘kesombongan intelektual’ (intellectual hubris).
Sejarah moneter dunia telah berulang kali memberikan pelajaran pahit tentang bagaimana teori-teori hebat dari para raksasa ekonomi hancur ketika menabrak realitas di lapangan. Salah satu contoh paling mencolok adalah Milton Friedman dengan mazhab monetarismenya.
Sebagai kritikus ulung The Fed, Friedman merumuskan bahwa bank sentral tidak akan pernah bisa melakukan penyetelan halus (fine-tuning) suku bunga tanpa memicu ketidakstabilan. Sebagai solusi, ia menawarkan ‘obat ajaib’, yakni mematikan fungsi manipulasi suku bunga dan membiarkan jumlah uang beredar tumbuh secara mekanis dan konstan seperti robot.
Namun, ketika teori indah di atas kertas itu diterapkan oleh Paul Volcker di Amerika Serikat dan Margaret Thatcher di Inggris pada awal 1980-an, kekacauanlah yang terjadi. Variabel psikologi pasar, inovasi perbankan, dan kecepatan perputaran uang di dunia nyata ternyata jauh lebih liar dan tidak stabil daripada asumsi matematika Friedman di Universitas Chicago.
Menargetkan jumlah uang secara kaku justru mencekik sektor riil dan memicu pengangguran massal. Pada akhir hayatnya tahun 2003, Friedman dengan jujur terpaksa mengakui keterbatasan teorinya. Sebuah momentum mawas diri yang langka di menara gading akademis.
Ekonom Muslim terkemuka, Umer Chapra, dalam Towards a Just Monetary System, menangkap fenomena ini dengan jeli. Ketika mengutip para ekonom barat, Chapra menunjukkan bahwa ilusi kendali moneter konvensional selalu berakhir one step behind. Akar masalahnya bukan pada salah hitung rumus, tetapi pada keengganan teoretikus untuk melihat variabel tersembunyi yang berada di luar model makroekonomi mereka.
Ketika Teori Menjadi Dogma
Mengapa kesombongan intelektual begitu gigih bertahan? Karena, ilmu ekonomi modern sering kali mengkhianati watak aslinya. Demi terlihat presisi dan empiris, ekonomi meminjam rumus-rumus rumit dari ilmu fisika. Model matematika kemudian menciptakan ilusi kemahatahuan; seolah-olah perilaku jutaan manusia di pasar dapat dipenjara dalam angka indeks dan kurva.
Ketika sebuah kebijakan moneter tidak mempan, misalnya saat yield instrumen dalam negeri sudah dinaikkan namun modal asing tetap kabur karena faktor panik geopolitik global, para penganut teoretis radikal tidak jarang berkilah.
Mereka menolak koreksi dan justru menyalahkan keadaan. “Teorinya tidak salah, hanya pasar bertindak tidak rasional,” atau “Kebijakannya kurang diterapkan secara murni.”
Pada titik demikian, sains telah bergeser menjadi dogma. Teori tidak lagi digunakan sebagai alat bantu untuk memahami realitas, namun bak kacamata kuda untuk menolak realitas yang tidak cocok dengan ego sang pemikir.
Sementara dasar utama dari sains adalah keterbukan abadi dan kesiapan untuk menerima koreksi. Seperti yang diingatkan oleh filsuf sains Karl Popper melalui konsep falsifiability, sebuah teori hanya layak disebut ilmiah jika ia menyediakan ruang untuk dibuktikan salah oleh data dan realitas baru.
Sains dalam perjalanan eksplorasinya terhadap alam, baik makro maupun mikro, seyogianya tidak pernah membeku dan menjadi dogma mati. Sama seperti astrofisika yang rela merevisi teorinya ketika teleskop canggih menemukan galaksi baru yang aneh, ilmu ekonomi juga dapat memiliki kerendahan hati yang sama.
Lanskap ekonomi abad ke-21 yang digerakkan oleh algoritma perdagangan otomatis (high-frequency trading), kecerdasan buatan, dan fragmentasi geopolitik global adalah ‘galaksi-galaksi baru’ yang tidak pernah ada dalam buku teks klasik.
Memaksakan formula usang tanpa kesiapan untuk dikoreksi adalah sebuah kenaifan ilmiah yang mahal harganya. Sebab, dalam ekonomi, taruhan dari sebuah eksperimen ego teoretis bukanlah sekadar salah coret di papan tulis, tetapi hajat hidup dan kesejahteraan banyak orang di sektor riil.
Sudah saatnya para ekonom dan teoretikus menurunkan ego mereka. Mengakui keterbatasan, bersikap mawas diri, dan selalu terbuka pada kritik perbaikan di kemudian hari, bukanlah tanda kelemahan ilmiah. Sebaliknya, itulah bentuk tertinggi dari kejujuran intelektual, dan satu-satunya cara agar ilmu ekonomi tetap setia pada hakikatnya sebagai sains yang memanusiakan manusia.
Wallahu a’lam bish-showab
