Runtuhnya Supremasi Global Amerika Serikat
/ Bisnis
Dolar tergeser QRIS, Airbus mendominasi angkasa, dan geopolitik manufaktur Asia berhasiil mengendalikan sirkuit teknologi masa depan.
Ichwan A. Basri
Pakar Ekonomi Islam
Dunia sedang menyaksikan pergeseran tektonik dalam lanskap kekuatan global. Amerika Serikat yang selama hampir satu abad memegang hegemoni mutlak di segala bidang, perlahan mulai terkunci di dalam bentengnya sendiri.
Pendekatan luar negeri yang konfrontatif dan transaksional, terutama di bawah rezim proteksionisme agresif, telah memicu resistensi global. Alih-alih membuat Paman Sam kembali digdaya, kebijakan memusuhi banyak bangsa justru menjadi katalisator bagi dunia untuk berjalan mandiri dan meninggalkan sang superkuasa di belakang.
Beberapa sektor penting akan kita ulas, mulai dari mikroelektronika dan elektronik, dirgantara, otomotif, jasa keuangan dan logistik, serta pertanian.
Sektor pertama, mikroelektronika dan elektronik yang kini kehilangan pabrik fisiknya. Meskipun tempat lahirnya penemuan microchip modern, Amerika Serikat melakukan kesalahan strategis dengan melepaskan kapasitas manufaktur fisik ke Asia demi mengejar bisnis digital low-risk ber-margin tinggi.
Sekarang, kasta tertinggi chip justru dikendalikan oleh Taiwan. Sekitar 90 persen chip paling canggih dalam skala nanometer untuk AI dan smartphone kini wajib dicetak di pabrik Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC).
Kita bergeser ke elektronik rumah tangga. Merek TV legendaris Amerika Serikat, seperti RCA dan Zenith, telah punah atau sekadar menjadi stiker lisensi. Pasar layar visual dan alat kelistrikan harian kini dikuasai total oleh Korea Selatan (Samsung, LG), Eropa (Schneider, Siemens), dan Tiongkok (TCL, Midea, Haier).
Belum lagi agresivitas dan kreativitas Tiongkok. Di bawah tekanan sanksi Barat, Tiongkok dapat memanfaatkan modal pasarnya yang raksasa, kecepatan belajar yang luar biasa, serta kreativitas tekniknya untuk membangun kemandirian teknologi. Lompatan inovasi seperti arsitektur vertikal (logic folding) yang dilakukan negeri tirai bambu diproyeksikan akan membuat mereka menjadi pemimpin masa depan chip tanpa bergantung pada Barat.
Sektor kedua, dirgantara, yang memperlihatkan keruntuhan Boeing akibat ‘main kasar’ politik. Kasus Boeing menjadi contoh nyata bagaimana proteksionisme justru memicu kerapuhan jangka panjang. Ketika manajemen lebih fokus menggunakan pengaruh lobi pemerintah untuk menjatuhkan tarif pada kompetitor daripada memprioritaskan keselamatan sirkuit dan rekayasa teknik, pasar dunia pun berputar arah.
Pasar internasional secara masif kemudian menjatuhkan pilihannya pada Airbus. Perusahaan Eropa ini memimpin telak volume pengiriman pesawat global lewat seri A321neo yang efisien, meninggalkan Boeing yang terjebak dalam krisis reputasi keselamatan dan penurunan pesanan.
Ketiga, tentang akhir era tiga raksasa Detroit di sektor otomotif. Industri otomotif konvensional Amerika Serikat terbuai puluhan tahun dalam zona nyaman memproduksi SUV dan truk pikap besar yang hanya laku di pasar domestik mereka.
Sekarang, mereka kalah total dalam Revolusi EV. Ketika dunia bergeser cepat ke arah kendaraan listrik (EV) pintar, Amerika Serikat kalah besar, karena Tiongkok menguasai 70 persen rantai pasok baterai dunia.
Benteng tarif yang dibangun Amerika Serikat pun sia-sia. Kebijakan mengenakan tarif masuk hingga 100 persen pada EV China menjadi pengakuan tidak langsung bahwa produk Amerika Serikat tidak mampu bersaing secara adil.
Pada pasar-pasar netral seperti Asia Tenggara dan Amerika Latin, konsumen global secara masif lebih menyukai merek seperti BYD yang menawarkan kemewahan teknologi tinggi dengan harga terjangkau.
Keempat, hancurnya monopoli transaksional jasa keuangan dan logistik di sektor jasa keuangan dan logistik. Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat mengeruk keuntungan dari setiap transaksi global melalui jaringan Visa dan Mastercard, serta mendominasi arus perdagangan internasional.
Kini, muncul ancaman inovasi QRIS. Kehadiran sistem pembayaran lokal dan regional seperti QRIS di Asia Tenggara telah mematahkan dominasi kartu kredit AS untuk transaksi harian. Upaya protes Amerika Serikat yang menganggap QRIS sebagai ‘hambatan dagang’ membuktikan kepanikan mereka, karena kehilangan triliunan potensi margin.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga mulai absen di jalur laut. Lebih dari 90 persen kapal kontainer raksasa dunia telah diproduksi di Asia, dan logistik laut dikendalikan penuh oleh raksasa Eropa (MSC, Maersk) serta Asia (COSCO).
Selanjutnya, benteng terakhir Amerika Serikat yang mulai kacau, yakni sektor kelima, pertanian. Sektor agrikultur dan biji-bijian (corn belt) adalah salah satu aset geografis terbaik milik Amerika Serikat. Namun, perang dagang sepihak yang dilancarkan Washington telah menghancurkan benteng ini.
Senyatanya, kedelai berhasil direbut Brasil. Karena Amerika Serikat menggunakan pangan sebagai alat politik sanksi, importir terbesar seperti Tiongkok mengalihkan seluruh pesanan kedelai dan jagung mereka ke Brasil.
Pada saat yang sama, India mengukuhkan diri sebagai raja ekspor beras dunia, sedangkan Tiongkok terus mengembangkan teknologi padi toleran air asin untuk memastikan ketahanan pangan mereka secara mandiri. Terlihat jelas tengah terjadi kemandirian pangan di Asia.
Benturan Mentalitas Budaya Kerja
Di balik runtuhnya sektor-sektor raksasa Amerika Serikat, terdapat benturan mentalitas budaya kerja yang sangat kontras antara Barat dan Timur. Perusahaan Paman Sam cenderung malas berinovasi secara sehat karena merasa ‘terlalu besar untuk gagal’ (too big to fail).
Ketika menghadapi persaingan murni, mereka sering kali menggunakan pengaruh Pemerintah Federal-nya untuk ‘main kasar’ demi membungkam kompetitor melalui berbagai mekanisme.
Pertama, kamuflase riset militer (dual-use tech). Berdasarkan putusan hukum World Trade Organization (WTO), Boeing terbukti menggunakan celah riset militer untuk menyembunyikan subsidi mereka.
Pemerintah Federal AS melalui NASA menyalurkan subsidi tersembunyi senilai US$ 2,6 miliar, disusul aliran dana teknologi dari Departemen Pertahanan (Pentagon) sebesar US$ 1,2 miliar. Dana pajak tersebut digunakan untuk mendanai riset material serat karbon pesawat komersial Boeing, misalnya seri 787, dengan kedok proyek militer.
Kedua, hukum pajak pesanan (bespoke tax breaks). Boeing sukses melobi pemerintah negara bagian untuk mengesahkan potongan pajak ilegal (B&O Tax) yang dirancang khusus hanya untuk mereka demi memotong biaya produksi jet 777X.
WTO juga menyatakan sistem insentif ekspor Foreign Sales Corporation (FSC) milik Amerika Serikat ilegal, karena memotong pajak ekspor Boeing agar bisa menjual pesawat lebih murah dari harga pasar normal.
Ketiga, senjata hukum proteksionisme. Ketika kompetitor regional seperti Bombardier (Kanada) menawarkan pesawat canggih berbiaya efisien ke maskapai Amerika Serikat, Boeing menggerakkan mesin politik US Department of Commerce untuk menjatuhkan tarif antipatungan sebesar 300 persen pada tahun 2017. Taktik agresi hukum itu memaksa Bombardier yang kehabisan napas finansial untuk menjual proyeknya kepada Airbus, yang kini menjadi Airbus A220.
Sebaliknya, industri di Asia, khususnya Tiongkok, tidak memiliki kemewahan proteksi politik global tersebut. Ditekan oleh sanksi sepihak, mereka justru memicu mentalitas ‘gebrakan’ melalui kecepatan belajar (speed of learning). Dikombinasikan dengan otomatisasi robotika mutakhir, mereka memotong waktu evolusi teknologi menjadi hitungan bulan dan menemukan jalur alternatif rekayasa yang lebih efisien dari Barat.
Siklus Muqaddimah Ibnu Khaldun
Pada abad ke-14 yang lalu, pemikir besar Ibnu Khaldun dalam mahakaryanya, Muqaddimah, telah merumuskan sebuah hukum besi sejarah tentang siklus bangun-runtuhnya sebuah peradaban (madaniyah).
Ia menyatakan bahwa sebuah dinasti atau imperium besar yang telah mencapai puncak kejayaan cenderung akan memasuki fase senjakala yang ditandai oleh gejala internal yang khas, berupa tumbuhnya arogansi kekuasaan, hilangnya moralitas keadilan, serta kecenderungan penguasa untuk mengisolasi diri dari sekutu-sekutunya demi mempertahankan kemewahan absolut.
Apa yang terjadi pada Amerika Serikat hari ini adalah cerminan sempurna dari ramalan Ibnu Khaldun. Kebijakan proteksionisme agresif, sanksi sepihak, dan tindakan memusuhi bangsa-bangsa di dunia bukanlah tanda kekuatan, melainkan gejala psikologis dari fase akhir sebuah imperium yang panik menghadapi perubahan zaman.
Ketika Amerika Serikat memilih jalan konfrontasi dan ‘main kasar’ menggunakan instrumen hukum domestik untuk menindas kompetitor, mereka secara sukarela sedang memutus tali solidaritas global (asabiyah) yang selama ini menopang hegemoni mereka.
Hukum alam sejarah terbukti bersikap adil. Tekanan dan isolasi yang dipaksakan oleh Washington justru bertindak sebagai pemantik yang memaksa bangsa-bangsa lain untuk menjadi kreatif, bersatu, dan melahirkan ekosistem tandingan.
Ketika Dolar mulai tergeser oleh arsitektur transaksi lokal seperti QRIS, Airbus mendominasi angkasa, dan geopolitik manufaktur Asia mengendalikan sirkuit teknologi masa depan, toh dunia tidak kiamat. Dunia hanya sedang berjalan memutar, meninggalkan Amerika Serikat yang terisolasi di dalam benteng tarifnya sendiri.
Persis seperti yang ditulis oleh Ibnu Khaldun, peradaban lama yang telah usang akibat keangkuhannya perlahan akan surut, memberi jalan bagi lahirnya tatanan baru yang multipolar di mana kekuatan tidak lagi berpusat pada satu tangan egois, tetapi tersebar secara adil pada poros-poros bangsa yang sudi bekerja sama.
Wallahu a’lam bish-showaab
