Waspada Atas Godaan Dunia :

Waspada Atas Godaan Dunia

Manusia cenderung untuk bersenang-senang dengan berbagai fasilitas duniawi.


Ikhsan Pujianto
Dai dan Wirausahawan
Alumnus Ponpes Takwinul Muballighin
Condongcatur Depok Sleman

 

Secara fitrah, manusia diberi potensi, berupa kecenderungan untuk bersenang-senang dengan berbagai fasilitas duniawi. Ia dapat berbentuk kesenangan kepada pasangan. Laki-laki menyenangi perempuan, dan perempuan menyenangi laki-laki.

Ia juga dapat berbentuk rasa gembira ketika melihat anak cucu, keturunan yang banyak, atau keluarga besar. Demikian juga ketika memiliki harta yang melimpah, aset, barang berharga yang banyak, kendaraan yang bagus dan mewah, binatang ternak yang gemuk dan sehat, serta sawah ladang yang subur dan terbentang luas.

Namun, Allah SWT mengingatkan bahwa semua itu hanyalah perhiasan dan kesenangan sesaat. Ia bersifat sementara. Ketika tiba masanya, manusia harus kembali kepada Allah SWT, meninggalkan dunia yang fana ini menuju alam keabadian, yakni akhirat.

Dalam Kitab Suci Al-Quran, Allah Ta’ala memberikan informasi tentang hakikat kehidupan dunia dan perilaku utama yang harus dilakukan manusia agar bisa selamat, kembali ke surga dengan segala fasilitas yang penuh dengan keindahan, ketenangan, dan kenikmatan. Dunia memang terasa indah, menarik bahkan bisa melenakan manusia.

Allah Ta’ala berfirman, “Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (QS Ali Imran: 14)

Pada ayat selanjutnya, Allah Ta’ala menyampaikan informasi bahwa ada yang lebih baik dari sekadar memburu dan menuruti kesenangan duniawi.

Katakanlah, “Maukah aku beri tahukan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan (untuk mereka) pasangan yang disucikan serta ridha Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. (QS Ali Imran: 15)

Keindahan surga dengan segala fasilitasnya disediakan bagi orang yang bertakwa, yaitu orang yang memiliki karakter baik, perilaku utama, kebiasaan terpuji. Al-Quran menjelaskan karakter mereka dalam ayat-ayat berikutnya. Mereka adalah mukminin, orang yang memiliki keimanan yang kokoh, kuat dan tangguh.

(Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami benar-benar telah beriman. Maka ampunilah dosa-dosa kami dan selamatkanlah kami dari azab neraka.” (QS Ali Imran: 16)

Keimanan yang dimaksud, melahirkan komitmen untuk senantiasa meminta ampun dari berbagai salah dan dosa serta memohon dijauhkan dari siksa neraka.

Lima Karakter

Ada lima karakter, berupa tradisi positif, kebiasaan baik, dan perilaku unggul yang terangkum di ayat ke-17 dari surat Ali Imran, “(Juga) orang-orang yang sabar, benar, taat, dan berinfak, serta memohon ampunan pada akhir malam.”

Pertama, para penghuni surga adalah orang yang senantiasa bersabar; shabirin. Mereka mampu bersabar dalam melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah; sabar saat menjauhi dan meninggalkan larangan Allah; serta tetap bersabar ketika menghadapi musibah, berbagai ujian, dan cobaan yang menimpa.

Kedua, shodiqin, yakni orang-orang yang benar dalam aspek imannya. Mereka jujur dalam kehidupannya. Keyakinan mereka terhunjam ke dalam hati, diikrarkan secara lisan, dan dibuktikan dalam tindakan. Aktivitas kesehariannya menjadi bukti dari keimanannya. Penampilan fisik, selera hidup, dan rasa diselaraskan dengan nilai keimanan yang ada dalam hatinya.

Ketiga, qanitin, yaitu orang yang berusaha tunduk-patuh melakukan ketaatan dan ketundukan pada syariat Allah. Apa pun perintah Allah dia lakukan, karena yakin pasti ada kebaikan dan kemaslahatan di dalamnya. Apa pun larangan Allah pasti dia jauhi, karena sangat yakin bahwa dalam larangan itu terdapat bahaya dan kemudaratan yang mendatangkan murka Allah SWT.

Keempat, munfiqin, yakni orang yang mau berbagi kepada orang lain. Kesalihan pribadi tergambar dalam ketangguhan iman, kesabaran, ketaatan, lalu diselaraskan dengan kepedulian kepada orang lain dalam bentuk kesalihan sosial.

Orang-orang yang memiliki karakter ini bersedia berbagi, peduli, dan sangat berempati kepada makhluk Allah lainnya. Ketangguhan internal dimanifestasikan dalam semangat membantu orang-orang yang membutuhkan.

Kelima, mustaghfirin, yaitu orang-orang yang senantiasa memohon ampunan kepada Al-Ghaffar, Dzat yang Maha Pengampun, Allah Subhanahu Wata’ala. Lantunan istighfar dilakukan di waktu istimewa, yaitu di akhir malam atau pada waktu sahur. Itulah waktu ketika kebanyakan orang sedang asyik tidur, ia bangun untuk takarub, beribadah, dan beristighfar kepada Rabb-nya.

Berhadapan dengan godaan dunia yang semakin menarik dan menggiurkan, tak ada jalan lain kecuali kita harus kembali kepada petunjuk Allah SWT. Kehidupan dunia hanya sebentar. Allah Ta’ala telah menyiapkan kebahagiaan abadi di surga, bagi orang-orang yang beriman, berperilaku jujur, komitmen dengan keimanannya, tekun beribadah, mau berinfak, serta senantiasa mohon ampunan kepada Allah SWT pada waktu akhir malam.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik